Sabtu, 22 Oktober 2011

ISLAM AGAMA DAMAI

Menurut Hujjatul Islam Imam Al Ghazali ra, Amar makruf nahi mungkar (menyeruh kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah puncak tertinggi dari fungsi agama yang diturunkan oleh Allah Swt. sebagai ungkapan cintanya kepada manusia ke muka bumi melalui para nabi dan rasulnya. Lebih lanjut Al Ghazali juga menjelaskan,seandainya amar makruf dan nahi mungkar tesesebut tidak dilaksanakan baik secara ilmiah dan amaliyah,maka niscaya kebodohan dan kesesatan merajalela dimana-mana,dan dunia akan hancur binasa. Tentu saja keadaan buruk ini tidak sejalan dengan misi yang diemban oleh manusi sebagai khalifah Allah yang seharusnya memakmurkan buminya dengan penuh rasa saling cinta dan kasih sayang.

Al qur`an sebagai sumber utama dan otoritatif dalam Islam dengan secara tegas menyebutkan bahwa agama yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Adalah agama “rahmatan lil alamiin.”

Aku tidak mengutusmu ( Muhammad ) kecuali sebagai penyebar kasih sayang bagi alam semesta.(QS.Al –anbiya,107). Fungsi utama khadiran kanjeng nabi Muhammad untuk menebar kasih sayang ini juga secara tegas dikakui oleh beliau dengan pernyataannya :”Aku diutus Allah ke dunia untuk menata akhlaq manusia yang luhur.”

Berangkat dari pemahaman diatas, Amar makruf dan nahi mungkar selain sebagai kewajiban secara syar`i yang harus diemban oleh setiap muslim, kalimat yang sangat popular ditelinga masyarakat itu sesunggguhnya juga merupakan penjelmaan dari rasa cinta atau kasih sayang yang mendalam yang harus dimiliki dan disampaikan dari seorang muslim terhadap saudaranya dengan harapan agar tidak tersesat dan bisa selamat bersama-sama, baik di saat masih hidup di dunia terlebih di akhirat.

Seorang muslim yang tidak mempunyai rasa kasih sayang,sifat rendah hati (tawadlu`) dan empati terhadap orang lain bahkan bersikap sebaliknya seperti: keras, bringas,angkuh dan egois,tentunya dapat dibayangkan sulit untuk dapat melaksanakan tugas mulia tersebut, meski secara lahiriyah tampak begitu bersemangat dan bahkan secara berlebihan merasa melaksanakan tugas amar makruf dan nahi mungkar dengan benar.. Sikap ataupun ucapan kasar yang mengatasnamakan amar makruf dan nahi mungkar sering kali bisa kita temukan dan jumpai dari bahasa para pendakwah yang menyampaikan khutbah di masjid dan tempat umum lainnya.

Meminjam istilah KH.Musthofa Bisri (Gus Mus), mereka gemar menggunakan “bahasa geram” yang menjadi tren di kalangan intelektual dan agamawan saat ini. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah,demonstrasi dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Bisa jadi khotbah dan ceramah yang mereka sampaikan merupakan gambaran dari letupan semangat yang berlebihan sehingga terkadang mampu menyeret orang lain bertindak bodoh dan brutal mengatas namakan agama sesuai dengan isi khotbah sang khotib.

Banyak para agamawan menyampaikan pesan Amar makruf dan nahi mungkar yang terlalu bersemangat dan kurang dikendalikan oleh akal dan nuraninya,justru terbukti lebih banyak merugikan terutama bagi agama yang diwakilinya.Maka sudah semestinya para agamawan tidak menyampaikan pesan-pesannya memerangi “kemungkaran”secara berlebihan yang sering mengaburkan pikiran jernih yang ingin dikemukakan.

KH.Musthofa bisri menilai,munculnya kegenitan para para ustadz yang notabene merupakan “Orang Pintar Baru” di perkotaan ini seiring dengan munculnya banyak buku,majalah,brosur, dan selebaran yang mengajarkan kegeraman atas nama amar makruf nahi mungkar atau atas nama pemurnian Islam dari unsur bid`ah dan kemusyrikan. Mereka menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapat final yang sudah pasti benar.Pendapat yang lain pasti salah ,dan yang salah pasti jahannan tempat akhirnya.

Gerakan yang sering dinamakan purifikasi Islam diatas sebagai jantung utama atau ruh wahabisme yang dewasa ini dipandang sebagai inspirasi untuk memunculkan eksklusifisme,radikalisme bahkan terorisme berbasis agama di Indonesia . Pada arus selanjutnya, tidaklah mengherankan jika radikalisme Islam juga telah menjadi bagian potret wajah Islam di Indonesia saat ini, baik itu dimunculkan oleh kelompok wahabi yang masih asli maupun yang sudah termodifikasi oleh baju politik. Target dari gerakan radikalisme tersebut ialah perjuangan untuk mewujudkan khilafah Islam dan sejenisnya. Jika hal ini terjadi,akan sangat membahayakan bagi toleransi dan kerukunan yang sejak lama sudah terbina di jiwa rakyat Indonesia yang dibingkai oleh NKRI dan Pancasila sebagai dasar Negara.

Sebagai anak muslim negeri yang dibesarkan di bumi pertiwi ini,Masih terngiang di telinga kita dengan apa yang diajarkan para guru di sekolah,bahwa negara kita adalah negara yang santun dan beradab. Kalimat itu kini sering kabur dan seakan hanya menjadi selogan dan tulisan di dinding sekolah –sekolah yang tak terurus.Menurut orang-orang pintar, tergerusnya nilai kesantunan itu diakibatkan oleh beberapa faktor,dintaranya adalah faktor ekonomi atau “keyatiman” sosial dan ketertindasan secara politik. Realitas tersebut memang menjadi kewajaran yang tidak bisa dibantah dalam setiap kelompok masyarakat. Namun karena Ummat Islam di Indonesia sudah terlanjur mengklaim diri sebagai umat mayoritas yang katanya mengidolakan Kanjeng nabi Muhammad Saw, tidak seharusnya mempunyai sikap yang tidak santun,kasar,suka mengumpat kelompok lain dan merasa dirinya paling benar,sehingga orang lain yang berbeda sudah barang tentu mendapat predikat sesat dan harus masuk neraka.Padahal junjungan agung kita Nabi Muhammad saw. yang diidolakan adalah sosok pribadi yang tabassum (murah senyum),lemah lembut dan tentu saja tidak berperilaku beringas dan suka mencaci maki orang lain.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah Annabiyul Musthofa Muhamad Saw. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Sikap lembut dan kasih sayang yang dimiliki Rosulullah jelas disebutkan dalam Al qur`an yang berbunyi.”Maka disebabkan rahmat Tuhanlah,kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar,niscaya mereka menjauhkan diri dari sekitarmu,maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan” (QS..Ali Imron,3)

Para Ulama` salafussholih menjelaskan, ayat diatas dengan teramat jelas menunjukkan bahwa Allah lah yang menganugerahkan rasa lembut dan kasih sayang pada diri Kanjeng Nabi Muhammad Saw,sekaligus menegaskan bahwa metode mengajak orang lain kepada Islam dengan cara yang kasar dan beringas justeru tidak menghasilkan apa-apa,bahkan berakhir dengan kegagalan. Jika dengan ucapan yang kasar dan perilaku yang beringas tidak diperkenankan oleh Allah menjadi tabiat Nabi muhammad saw.dan seluruh ummatnya, maka justru tidak diperkenankan lagi jika tabiat yang kasar tersebut terwujud dalam tindakan kekerasan secara fisik yang sangat merugikan orang lain.

Islam adalah agama yang dibawah dan diajarkan dengan penuh kedamaian,toleransi,dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta melarang ummatnya bertindak brutal seperti pengrusakan apalagi pembunuhan yang mengatasnamakan jihad fisabilillah. Tidak ada perintah berperang dalam islam kecuali untuk mempertahankan kehormatan agama dan jiwa setelah dipandang ada penindasan yang dilakukan oleh orang lain. Bahkan dalam suasana perang yang sedang berkecamuk sekalipun,Islam melarang ummatnya bertindak gegabah dengan memberikan rambu-rambu dan etika berperang. Di dalam suasana peperangan Islam melarang membunuh wanita,orang yang sudah menyerah,orang tua,anak kecil,tidak boleh merusak tanaman,atau tempat ibadah.Tawanan perang dalam islam juga dijaga dengan baik dan diperlakukan secara manusiawi.

Bukti lain tentang tingginya toleransi umat islam adalah adanya “Piagam Madinah”. Para sejarawan menyebut piagam madinah merupakan perjanjian konstitusional tentang hak-hak asasi manusia yang pertamakali di dunia.Salah satu butir isinya menyatakan “Orang Islam,Yahudi,dan warga madinah yang lain bebas memeluk agama dan keyakinan mereka masing-masing.Mereka dijamin kebebasannya dalam menjalankan ibadahnya.Tak dibenarkan mencampuri urusan agama Orang lain.Orang yahudi menyetujui prjanjian ini berhak mendapat pertolongan dan perlindungan serta tidak diperlakukan secara dzalim.Orang yahudi bagi orang yahudi dan orang Islam bagi orang Islam.bagi mereka yang berbuat dzalim itu akan merugikan diri dan keluarganya .Setiap bentuk penindasan dilarang.Mereka sama-sama wajib mempertahankan negerinya dari serangan musuh”.

Sejalan dengan pesan – pesan kemanusiaan dalam Piagam madinah terebut,Al Ghazali mengatakan bahwa tujuan –tujuan agama (Maqasidus syar`i)adalah kesejahteraan sosial.Kemaslahatan menurut Imam Ghazali mewujudkan tujuan-tujuan agama yang memuat lima bentuk perlindungan .Yaitu perlindungan terhadap agama(Hifzh al din),Jiwa dan tubuh ( hifz al nafs),akal pikiran(hifz al aql),keturunan (hifz al nasl),dan harta benda (hifz al mal). Siapun yang melakukan pelecehan dan tindak kejahatan terhadap kelima hak asasi manusia tersebut tidak bisa diterima, dan Islam memberikan hukuman yang sangat berat terhadap pelakunya. “Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain (bukan karena qishash), atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya; dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” Al-Maidah: 32

Siapapun yang dapat membaca dengan pikiran cerdas pernyataan-pernyataan teologis di atas niscaya akan mampu menyimpulkan dengan tanpa ragu bahwa teks-teks suci kaum muslimin ini adalah bukti paling nyata dari missi dan doktrin kemanusiaan Islam atau amar makruf nahi mungkar yang anti kekerasan dan penghianatan terhadap hak-hak asai manusia bahkan terhadap hewan sekalipun. Tentu saja kita tidak setuju jika kalimat agung ALLAHU AKBAR itu artinya serbuuu…Wallahu a`lam.

MEMANUSIAKAN MANUSIA

Dalam Shahih Al bukhari deceritakan, suatu ketika dua orang sahabat Nabi yang bernama Sahal dan Qays berbincang,tiba-tiba lewatlah iringan jenazah. Melihat rombongan jenazah yang lewat di depannya, kedua orang sahabat tersebut lantas berdiri untuk menghormatinya. Sebagian umat Islam memandang bahwa jenazah yang diusung tersebut adalah kafir. Mereka juga berasumsi bahwa seharusnya seorang muslim apalagi ahabat nabi tidak memberikan penghormatan kepada jenazah yang kafir. Namun kedua sahabat nabi tersebut menolak statemen yang yang diberikan kaum muslimin waktu itu. Dahulu”, kata sahal”Kami berkumpul bersama-sama baginda Rosulullulah Saw. Lalu,lewatlatlah rombongan jenazah. Beliau berdiri,kamipun berdiri. Seorang diantara kami berkata, ‘itu jenazah Yahudi ! mendengar ucapan ini lantas nabi bersabda,’bukankah dia manusia?”
Kalimat” Bukankah dia Manusia” adalah kalimat yang indah dan mendasar yang keluar dari bibir mulia Kekasih Allah yang agung ini patut direnungkan secara mendalam oleh para pemeluk agama yang mengaku sebagai ummatnya.terbukti ucapan itu telah tertanam dalam di setiap hati para sahabat Rosullullah Saw.Salah satu contoh yang lainnya adalah ketika tentara Islam berhasil merebut kekuasaan,mereka tanpa risih berdiri ,menghormati bangsa yang mereka taklukkan.
Kalimat yang disabdakan oleh Rusulullah saw.tersebut perlu dikumandangkan bahkan diteriakkan kapan saja,apalagi pada saat percikan api fanatisme membakar dada,ketika keyakinan beragama berubah menjadi keangkuhan ,dan ketaatan beragama mewujudkan diri dalam bentuk penyerangan secara tidak manusiawai yang menyeramkan bagi orang yang berlainan keyakinan. Ketika kelompok keyakinan lain diberi gelar apalagi diberikan gelar buruk oleh orang yang menentangya, maka kelompok yang merasa paling benar dan baik berhak memperlakukan kelompok yang dianggap buruk dengan tindakan apapun yang diyakini kabsahannya,bahkan memperlakukan mereka secara tidak manusiawi sekalipun.
Dalam catatan historis dapat kita saksikan,betap penyerangan secara tidak manusiawi terhadap kelompok lain dimulai dari terlebih dahulu memberikan julukan buruk terhadap mereka. Dalam catatan sejarah Islam juga pernah terjadi ratusan orang diburu,diusir bahkan dibantai dengan mengenaskan setelah diberi julukan “rafidhah”. Jalaludin Rahamat menjelaskan, orang-orang khawarij yang telah terbiasa menghabiskan malam-malamnya dengan munajat dan tahajjud berubah menjadi garang dan sadis. Mereka membunuh sesama muslim setelah terlebih dahulu mereka diberiri gelar kafir.
Lebih lanjut Intelektual Muslim Jalaludin rakhmat juga menjelskan,sebuah keyakianan untuk mengembalikan Islam pada wilayah tauhid telah terjadi di tanah arab.Ia mengambil ribuan nyawa sesama Muslim etelah mereka diberi julukan “musyrik”. Sekarangpun kita dengan senang dan bangga menabur fitnah,mengumbar makian,terhadap sesame muslim. Kita tidak merasa bersalah dengan korban-korban dari tangan tangan kotor kita karena mereka sudah lebih dahulu diberi julukan ahli bid`ah,GPK,agen zionis,kafir,murtad,musyrik dan sebagainya. Julukan itu telah menyembunyikan rasa kemanusiaan kita,dan lebih jauh lagi,membuang rasa kemanusiaan kita.
Karena itu,ketika mengajarkan persaudaran diantara kaum beriman,Al Qur`an mengajarkan……Janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk….(QS.49:11).Julukan buruk yang kita tempelkan pada orang lain telah menempatkan mereka sebagi musuh yang sah untuk kita caci maki,bahkan kita bantai dengan secara tidak manusiawi.apa ng terjadi jika hal tersebut terjadi dan menimpa keluarga kita? Dengan kepongan dan merasa diri sebagai kelompok yang paling berhak masuk surga, kita melupakan jeritan dan rasa sakit hati orang yang kita berikan gelar kafir,ahli bid`ah,musyrik,antek yahudi dan lain sebagainya..
Allah swt juga berfirman,”Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berbuat tidak adil.Bersikap adillah karena adil itu lebbih dekat kepada taqwa”(QS.AL Maidah :8)Jika seorang musyrikin itu meminta perlindungan pada kalian,maka lindungilah ia agar ia sempat mendengar firman Allah,kemudian antarlah ke tempat yang aman baginya(menjamin keamanannya)” QS.At taubah:6)
Bagi kita yang merasa dekat dengan Allah dengan amal ibadah kita,adakah jaminan amal kita sudah pasti diterima oleh Allah dan kelak pasti mampu menjemput maut dengan senyuman indah khusnul khotimah? Atau bisahkah orang menolak atau menghalang-halangi orang yang yang kita anggap pendosa yang selalu berbuat maksiat dari husnul khotimah jika Allah menghenghendakinya demikian?
Sebagai orang yang merasa paling benar ,mungkin ucapan “Allahu Akabar” yang terus berulang kali kita suarakan justru tidak membuat diri kita sebagai muslim yang punya rasa tawadlu`(rendah hati) di hadapan Allah terlebih terhadap manusia yang kita anggap sesat dan pantas masuk neraka. Kesemarakan ritual di tempat- ibadah tidak bias melahirkan transformasi spiritual dalam jiwa kita yang sesungguhnya haus akan siraman rahmat tuhan ini..
Seluruh kegiatan ibadah dalam islam intinya adalah bermikraj kepada Allah swt.Takbir dalam sholat adalah sebuah proses menaikkan kita ke langit dan salam mengembalikan lagi kita ke wilyah manusia. Pendeknya, ibadat ritual hanya bermakna dan berfungsi dengan baik bila berbekas dalam kehidupan sosial dan dalam akhlaq di tengah-tengah manusia. Sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada Allah swt,seyogyanya kita menampakkan getar tasbih dalam wirid kita pada sentuhan kasih pada sesame manusia terutama umat Islam.
Belajar dari sabda Nabi “Bukankah dia Manusia”, mari kita mengevaluasi diri apakah shalat kita telah menimbulkan diwajah kita tanda-tanda bekas sujud yang tidak selalu harus hitam di kening,melinakan ucapan dan perilaku kita yang santun dan penuh kasih kepada sesama manusia,paling tidak walu hanya dengan senyuman .Wallahu a`lam

SALEH RITUAL YES, SALEH SOSIAL YES

Pada suatu hari para sahabat Rosulullah SAWmembicarakan seseorang yang. Mereka kenal sebagai seorang yang abid (ahli Ibadah).Mereka sebut namanya berikut semua ihwal kebaikannya di hadapan Nabi SAW.Beliau Cuma terdiam mendengarkan semua apa yang diperbincangkan oleh sahabat.Belum selesai mereka memperbincangkannya, orang itu datang.Sahabat berteriak. “ Itulah Orangya ! ”Nabi SAW. Bersabda “ Kalian membicarakan seseorang yang tampak di wajahnya sentuhan setan.” Tidak berapa lama kemudian orang itu mendekat,berdiri diantara para sahabat,dan tidak mengucapkan salam.Rosulullah SAW.bertanya kepadanya.” Demi Allah ,apakah anda berkata dalam hati ketika berdiri di majelis ini,”Tidak seorangpun disini yang lebih baik dariku.`.”Ia menjawab”memang benar begitu.Segera ia meninggalkan majelis dan pergi kemasjid untuk mendirikan sholat.

Tiba –tiba Nabi SAW.berkata,”Siapa yang mau membunuhnya?” Abu Bakar pergi dan menyusul orang itu. Tidak lama kemudian sahabat Abu Bakar kembali.Beliau berkata”Bukankah anda melarang membunuh terhadap orang yang sedang melaksanakan sholat ya Rasulallah?” Nabi SAW.mengulangi kalimatnya.Kali ini Umar Bin Khattab pergi ke Masjid menyusul orang itu. Ia juga kembali beberapa saat kemudian.”Saya melihat dia sedang bersujud dengan khusuk, ya Rasul..Aku segan membunuhnya. Rasulallah mengulangi perintahnya. Kali ini sahabat Ali yang pergi namun iapun juga kembali.” Ya Rosul aku tidak berhasil menemuinya”.Mendengar itu,Nabi SAW.bersabda ,”Sesungguhnya ,orang ini dan kelompoknya membaca Al Qur`an,tetapi mereka hanya sampai di tenggorokannya saja.Mereka terlepas dari agama,seperti lepasnya anak panah dari busurnya.Sekiranya orang ini di bunuh,tidak seorang pun diantara umatku akan pecah.”(Musnad Ahmad Alishobah).Siapakah sesungguhnya orang itu? Para ahli hadits tidak secara rinci menjelaskannya.Ia hanyya dikenal dengan gelarnya saja,yaitu Dzu Tsudayyah.Itupun hanya tamak dalam simbolnya saja. Kejadian ini paling tidak memberikan beberapa pelajaran bagi kita.

Diantaranya, kita tidak boleh terpesona oleh kesalihan orang lain hanya dari sekedar amalan dhohirya saja.Tidak jarang kesalihan dhohir seperti itu justru menjadi topeng dari kepribadian yang jelek.Meskipun kesalihan dhohir juga banyak yang dicerminkan oleh kesalihan ruhani yang sesungguhnya di dalam setiap langkah kehidupannya.Dan itulah yang ideal. Orang yang yang banyak dipuji oleh para sahabat Rosul itu tertanyata merasa diri paling bersih,utama,paling benar, dan paling baik dari orang lain yang ada di sekitarnya.Dengan mempersolek diri dengan kesalihan ritual,kita dapat memperoleh kentungan sosial,ekonomi bahkan politik untuk kegiatan agama,tetapi sengguhnya hanyalah untuk kepentingan perut kita sendiri.Akhirnya bisa saja terjadi ibadah ritual apapun yang kita lakukan tidak melahirkan transformasi spiritual. Sholat tidak bisa mencegah kita dari perilaku sombong,Puasa tiadak memberikan efek kesabaran,zakat tidak melahirakan rasa empatai,dan ibadah haji pun tidak membentuk manusia yang rela berbagi dan rendah hati.

Islam adalah agama transfomatif. Di dalamnya memang banyak dilaksanakan praktik-praktik ritual seperti wudhu,sholat,puasa,zakat,haji dan lain sebagainya.Namun dalam islampun juga tidak menghendaki perilaku ibadah hanya berhenti sampai disitu.namun juga merambah ke wilayah sosial-horisontal.Kesalehan yang tertumpu hanya pada wilayah ritual adalah cermin pribadi yang adhoc (tidak utuh ) dan artifisial yang apada ahirnya hanya melahirkan pribadi yang egois dan merasa paling benar daripada orang lain.

meski terlihat selalu tekun beribadah jika Kecintaan pada diri sendiri dan dunia secara berlebihanlah yang mendominasi jiwa akan membuat kita kehilangan kepekaan terhadap sesama Membuat orang ingin dan tega berbahahagia sendiri. Kecintaan pada diri dan dunia yang berlebihanlah yang membuat orang sejahtera tak mampu melihat kesengsaraan orang lain,membuat orang kuat untuk tidak peduli pada saudaranya yang lemah,sombong pada sesama yang mereka anggap bodoh,membuat pemimpin abai terhadap rakyatnya,membuat orang yang merasa dekat dengan tuhan melecehkan mereka yang dianggap sesat.

Sikap adil tak bisa diharapkan lahir dari watak yang secara berlebihan mencintai diri sendiri.Kecintaan pada diri sendiri dan dunia boleh jadi sudah ada pada diri manusia sejak lahir.Namun,dalam diri manusia juga dibekali akal budi dan nurani sejak lahir.Jangan sekali-kali menganggap ritus-ritus ibadah itu tidak penting. Ia harus tetap dilakukan sampai yaumul qiyamah. Hanya saja ritualisme keliru jika berhenti pada ritus. Pada ritualisme,agama tampak hanya sebagai rangkaian upacara formal yang kering dan tidak bermakna.Berkenaan dengan ritualisme inilah Rasulullah SAW.bersabada ”Akan datang kepada manusia,satu zaman,ketika tuhan-tuhan mereka adalah perut,kiblat mereka adalah seks,agama mereka uang,kemuliaan mereka pada kekayaan.Tidak tersiua iman,kecuali namanya.Tak tersia dari Islam,kecuali upacaranya.Tak tersisah dari Al Qur`an kecuali hanya pelajarannya.Masjid – masjid mereka ramai,tetapi hati mereka kosong dari petunjuk.Mereka tidak mengenal ulama kecuali dari akaian keulamaannya yang bagus.Mereka tidak mengenal Al qura`an ,kecuali Cuma dari suara bacaannya yang bagus.Mereka duduk rapat di Masjidtetapi zikirnya duinia,dan kecintaannya dunia.” (Kitab Jami`ul Akhbar)

Semuah praktik Ibadah ritual maupun sosial hakikatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Haji adalah gladi resik manusia yang berangkat dari tanah airnya menuju rumah tuhan dan kembali kerumahnya.Puasa adalah juga perjalanan mendekat kepada tuhan yang berakhir dengan mendekat kembali ke sesama manusia.Takbir dalam sholat menaikkan kita ke langit dan salam mengembalikan kita ke bumi di mana amnusia berpijak.Pendeknya,ibadah ritual akan berarti jika berbekas dan bermakna dalam kehidupan sosial dan akhlak di tengah –tengah manusia.

Bagi mereka yang mendapat anugerah Allah untuk bisa mencium hajar aswad,tampakkanlah bekas sentuhan itu dalam getar tasbih dan kalimat yang menyejukkan keluar dari bibirnya. Yang sudah melaksanakan puasa,tampakkanlah bekas dahaga anda ke kelompok masyarakat yang miskin.Dan yang sudah melaksanakan sholat,telitilah apakah sholat kita telah menimbulkan tanda-tanda kearifan bekas sujud yang penuh ketawadlu`an atau sebaliknya ,kesombongan. dan merasa paling benar dari orang lain. Wallahu `alam

Sabtu, 24 September 2011

Untuk Para Guruku

Boeat Bapak-bapak Kiyai kami khususnya yang ada di PC NU LAMONGAN.

( Dikutip sebagian dari doa Gus Mus)

Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Pengasih dan Penyayang; jadikanlah Jam’iyah kami, NAHDLATUL ULAMA, sebagaimana mula-mula didirikan 85 tahun yang lalu, sebagai jam’iyah yang berkhidmah dan melayani umat, bangsa, dan Negara Indonsia. Jadikanlah NAHDLATUL ULAMA pelopor dalam menyiarkan Islam yang rahmatan lil’aalamiin dan meneladankan ajaran dan akhlak
Rasulullah SAW. Jadikanlah NAHDLATUL ULAMA rahmat dan bukan beban bagi umat, bangsa dan Negara Indonesia. Anugerahilah kekuatan lahir-batin kepada para pemimpin dan pengurus NAHDLATUL ULAMA di semua jajaran untuk memikul AMANAT, mengurusi dan tidak malah menjauhi warga mereka. Bukalah mata hati dan pikiran mereka; agar mereka dapat berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai KHITTAH NAHDLATUL ULAMA. Anugerahilah mereka sikap qana’ah, tidak tamak dan mudah silau terhadap materi duniawi. Jangan biarkan kepentingan sesaat membelokkan mereka dari tujuan mulia Jam’iyah mereka: melayani umat, berkhidmah kepada bangsa dan Negara, demi mendapatkan ridhaMu.
· · · 21 September jam 8:03